rajapress
Bagaimana Konsep Zakat Mempengaruhi Pengelolaan Bisnis Syariah?

Bagaimana Konsep Zakat Mempengaruhi Pengelolaan Bisnis Syariah?

1 Nov 2026
6x
Ditulis oleh : Editor

Dalam menjalankan usaha, pemilik bisnis tidak hanya perlu memperhatikan modal, penjualan, dan keuntungan. Ada tanggung jawab lain yang juga perlu dipahami, salah satunya berkaitan dengan zakat. Dalam Islam, zakat merupakan kewajiban yang memiliki aturan dan ketentuan tertentu, termasuk dalam kegiatan perdagangan apabila telah memenuhi syarat. Memahami konsep zakat dalam pengelolaan bisnis syariah dapat membantu pelaku usaha mengenali hubungan antara aktivitas ekonomi, kewajiban keagamaan, dan tanggung jawab sosial.

Zakat bisnis sering disebut sebagai zakat perdagangan atau zakat perniagaan. Pembahasannya berkaitan dengan harta usaha yang dimiliki dan dikelola untuk memperoleh keuntungan. Namun, tidak semua bisnis otomatis wajib mengeluarkan zakat. Ada ketentuan mengenai kepemilikan harta, batas minimal atau nisab, serta masa kepemilikan atau haul yang perlu diperhatikan. Karena itu, pemahaman yang tepat dibutuhkan agar kewajiban zakat dapat dilaksanakan sesuai ketentuan Islam.

Mengenal Konsep Zakat dalam Kegiatan Bisnis

Zakat merupakan salah satu kewajiban dalam Islam yang bertujuan menyucikan harta sekaligus membantu pihak-pihak yang berhak menerimanya. Dalam kegiatan bisnis, zakat berkaitan dengan harta perdagangan yang memenuhi persyaratan tertentu.

Berbeda dengan sedekah yang dapat diberikan secara sukarela kapan saja, zakat memiliki aturan mengenai jenis harta, jumlah minimal, waktu, dan penerimanya. Karena itu, pemilik usaha perlu memahami perhitungan zakat sebelum menentukan jumlah yang harus dikeluarkan.

Dalam konteks perdagangan, harta yang diperhitungkan dapat mencakup barang dagangan, uang tunai, dan piutang yang diharapkan dapat ditagih. Sementara itu, aset yang digunakan langsung untuk operasional, seperti bangunan toko, kendaraan operasional, dan peralatan produksi, pada umumnya tidak dihitung sebagai barang dagangan dalam zakat perdagangan.

Misalnya, seseorang memiliki toko perlengkapan rumah tangga. Barang yang disediakan untuk dijual merupakan bagian dari persediaan perdagangan. Namun, rak, meja kasir, dan komputer yang digunakan untuk mendukung operasional toko mempunyai fungsi berbeda dari barang dagangan.

Pemahaman mengenai perbedaan tersebut penting agar perhitungan zakat tidak dilakukan secara sembarangan.

Mengapa Zakat Penting bagi Pelaku Usaha?

Zakat mempunyai nilai ibadah sekaligus dimensi sosial. Melalui zakat, pemilik harta menjalankan kewajiban agama dan ikut membantu masyarakat yang membutuhkan.

Dalam bisnis, zakat juga dapat membangun kesadaran bahwa keuntungan tidak hanya berkaitan dengan kepentingan pribadi. Ada tanggung jawab sosial yang perlu diperhatikan ketika harta telah memenuhi ketentuan zakat.

Contohnya, sebuah usaha perdagangan memperoleh keuntungan dan terus berkembang selama beberapa tahun. Pemilik usaha perlu melakukan evaluasi terhadap kondisi hartanya, termasuk menghitung apakah aset perdagangan yang dimiliki telah memenuhi nisab dan haul.

Jika persyaratan terpenuhi, kewajiban zakat perlu ditunaikan sesuai ketentuan. Dana zakat kemudian disalurkan kepada golongan yang berhak menerimanya atau melalui lembaga pengelola zakat yang memiliki kewenangan.

Selain menjalankan kewajiban agama, pemahaman mengenai zakat dapat mendorong pemilik usaha untuk lebih tertib dalam mencatat aset dan mengelola keuangan. Hal tersebut membantu bisnis memiliki informasi yang lebih jelas mengenai kondisi hartanya.

Mengenal Nisab dan Haul Zakat Perdagangan

Dalam zakat perdagangan, terdapat dua istilah penting yang perlu dipahami, yaitu nisab dan haul.

Nisab merupakan batas minimal harta yang menjadi salah satu syarat wajib zakat. Untuk zakat perdagangan, nisab umumnya disetarakan dengan nilai 85 gram emas. Artinya, nilai harta perdagangan yang diperhitungkan harus mencapai atau setara dengan batas tersebut.

Sementara itu, haul merupakan masa kepemilikan harta selama satu tahun hijriah. Apabila harta perdagangan telah mencapai nisab dan memenuhi ketentuan haul, pemilik usaha perlu memperhitungkan kewajiban zakatnya.

Besaran zakat perdagangan yang umum digunakan adalah 2,5 persen dari nilai harta yang menjadi dasar perhitungan. Namun, penentuan nilai nisab dalam rupiah dapat berubah mengikuti harga emas sehingga pemilik usaha perlu memperhatikan nilai yang berlaku ketika menghitung zakat.

Sebagai ilustrasi, seorang pedagang memiliki harta perdagangan yang memenuhi ketentuan nisab dan haul. Setelah dilakukan perhitungan berdasarkan aset perdagangan yang relevan, nilai harta bersih yang menjadi dasar zakat adalah Rp100 juta.

Jika menggunakan tarif 2,5 persen, zakat yang perlu dikeluarkan adalah Rp2,5 juta.

Perhitungan tersebut hanya contoh sederhana. Dalam praktiknya, penentuan harta yang diperhitungkan dapat membutuhkan penyesuaian, misalnya berkaitan dengan kewajiban usaha yang jatuh tempo dan piutang yang dapat ditagih. Karena itu, pelaku usaha sebaiknya menggunakan panduan lembaga zakat atau ahli fikih yang kompeten.

Cara Menghitung Zakat Perdagangan

Menghitung zakat perdagangan membutuhkan informasi mengenai kondisi keuangan usaha. Pemilik bisnis perlu mengetahui nilai persediaan barang, uang tunai, saldo rekening usaha, dan piutang yang diharapkan dapat diterima.

Secara umum, perhitungan zakat perdagangan dapat menggunakan pendekatan berikut:

Nilai persediaan barang dagangan + uang tunai dan saldo usaha + piutang yang dapat ditagih − kewajiban usaha jangka pendek yang diperhitungkan = nilai harta perdagangan.

Jika nilai harta tersebut telah memenuhi nisab dan haul, zakat dihitung sebesar 2,5 persen sesuai ketentuan yang digunakan.

Sebagai contoh, sebuah toko memiliki kondisi keuangan sebagai berikut:

  • Persediaan barang dagangan sebesar Rp60 juta.

  • Uang tunai dan saldo rekening usaha sebesar Rp25 juta.

  • Piutang yang diperkirakan dapat ditagih sebesar Rp15 juta.

  • Kewajiban usaha jangka pendek yang diperhitungkan sebesar Rp10 juta.

Berdasarkan ilustrasi tersebut, nilai harta perdagangan menjadi Rp90 juta. Jika nilai tersebut memenuhi nisab berdasarkan harga emas yang berlaku dan telah memenuhi haul, zakat dihitung sebesar 2,5 persen.

Jumlah zakat dalam contoh ini adalah Rp2,25 juta.

Angka tersebut hanya ilustrasi untuk membantu memahami cara perhitungan. Dalam praktiknya, komponen yang dapat dikurangkan dan metode penilaian aset perlu mengikuti ketentuan fikih serta pedoman lembaga zakat yang digunakan.

Perbedaan Zakat Bisnis dan Zakat Penghasilan

Zakat bisnis dan zakat penghasilan sering dianggap sama karena keduanya berkaitan dengan aktivitas memperoleh uang. Padahal, dasar perhitungannya berbeda.

Zakat bisnis atau perdagangan berhubungan dengan harta usaha yang memenuhi ketentuan zakat perdagangan. Perhitungannya dapat melibatkan persediaan barang, uang tunai, saldo usaha, dan piutang yang dapat ditagih setelah memperhatikan kewajiban yang relevan.

Sementara itu, zakat penghasilan berkaitan dengan pendapatan yang diperoleh seseorang dari pekerjaan atau profesinya. Contohnya adalah gaji karyawan, honorarium, atau penghasilan dari jasa profesional.

Perbedaan tersebut penting karena seseorang dapat memiliki kewajiban zakat yang berbeda sesuai sumber dan karakteristik hartanya.

Misalnya, seseorang bekerja sebagai pegawai sekaligus memiliki toko daring. Penghasilan dari pekerjaannya dan harta perdagangan dari toko tersebut perlu dipahami berdasarkan ketentuan zakat masing-masing. Pemilik usaha tidak seharusnya langsung menjumlahkan seluruh pendapatan tanpa mengetahui dasar perhitungannya.

Jika terdapat kondisi yang belum jelas, berkonsultasi dengan lembaga zakat dapat membantu menentukan jenis zakat dan cara perhitungan yang sesuai.

Peran Pencatatan Keuangan dalam Mengelola Zakat

Pencatatan keuangan memiliki hubungan erat dengan perhitungan zakat bisnis. Tanpa data yang teratur, pemilik usaha akan kesulitan mengetahui nilai harta perdagangan yang dimiliki.

Misalnya, seorang pedagang memiliki beberapa jenis barang dengan harga perolehan berbeda. Jika tidak ada catatan persediaan, ia mungkin hanya memperkirakan jumlah barang berdasarkan ingatan. Akibatnya, nilai aset yang digunakan dalam perhitungan zakat berpotensi tidak akurat.

Untuk menghindari hal tersebut, pemilik usaha perlu mencatat pembelian dan penjualan secara rutin. Saldo kas, rekening usaha, piutang, serta kewajiban juga harus diperiksa secara berkala.

Penggunaan aplikasi akuntansi dapat membantu proses tersebut. Namun, pemilik bisnis tetap perlu memahami jenis transaksi dan memastikan data yang dimasukkan sesuai kondisi sebenarnya.

Dalam bisnis syariah, pencatatan keuangan bukan hanya bertujuan mengetahui keuntungan. Informasi tersebut juga dapat membantu pemilik usaha memenuhi tanggung jawab, termasuk menghitung zakat ketika persyaratannya terpenuhi.

Penyaluran Zakat kepada Pihak yang Berhak

Setelah mengetahui jumlah zakat yang harus dikeluarkan, pelaku usaha perlu memperhatikan penyalurannya. Dalam Islam, zakat diberikan kepada delapan golongan penerima atau asnaf sebagaimana dijelaskan dalam Surah At-Taubah ayat 60.

Delapan golongan tersebut meliputi fakir, miskin, amil, mualaf, riqab, gharimin, fisabilillah, dan ibnu sabil. Masing-masing memiliki kriteria penerimaan yang perlu diperhatikan.

Pelaku usaha dapat menyalurkan zakat melalui lembaga amil zakat yang resmi dan memiliki izin sesuai ketentuan. Cara ini dapat membantu proses pendistribusian agar lebih terorganisasi dan tepat sasaran.

Selain itu, penyaluran melalui lembaga pengelola zakat dapat membantu pemilik usaha memperoleh informasi mengenai proses pembayaran dan dokumentasi penyaluran.

Hal yang perlu diingat adalah zakat berbeda dari kegiatan bantuan sosial biasa. Sedekah dan donasi dapat diberikan kepada berbagai pihak sesuai tujuan pemberiannya, sedangkan zakat memiliki ketentuan penerima yang telah ditetapkan dalam syariat.

Hubungan Zakat dengan Manajemen Bisnis Syariah

Zakat bisnis tidak dapat dipisahkan dari pemahaman mengenai pengelolaan keuangan dan ekonomi Islam. Pelaku usaha perlu memahami bagaimana aset dihitung, transaksi dicatat, serta kewajiban keagamaan dipenuhi sesuai ketentuan.

Hal tersebut membuat pembahasan zakat relevan dengan bidang Manajemen Bisnis Syariah. Mahasiswa dapat mempelajari hubungan antara aktivitas ekonomi, pengelolaan usaha, dan nilai-nilai Islam yang menjadi dasar dalam mengambil keputusan bisnis.

Di Ma’soem University, Program Studi Manajemen Bisnis Syariah menjadi salah satu pilihan pendidikan bagi calon mahasiswa yang tertarik memahami pengelolaan bisnis berdasarkan prinsip ekonomi Islam. Pengetahuan mengenai manajemen, keuangan syariah, transaksi, dan etika usaha dapat membantu mahasiswa mengenali berbagai persoalan yang muncul dalam dunia ekonomi.

Pemahaman tentang zakat juga memberikan gambaran bahwa pengelolaan bisnis tidak hanya berorientasi pada peningkatan keuntungan. Ada tanggung jawab yang perlu diperhatikan ketika seseorang memiliki harta dan menjalankan kegiatan ekonomi.

Pengetahuan tersebut dapat menjadi bekal untuk mengeksplorasi bidang kewirausahaan, administrasi bisnis, pengelolaan keuangan, pemasaran, maupun sektor ekonomi syariah. Peluang karier tetap bergantung pada kemampuan, pengalaman, dan persyaratan dari masing-masing bidang pekerjaan.

Pada akhirnya, zakat merupakan bagian penting dari pengelolaan harta dalam Islam. Bagi pelaku usaha, pemahaman mengenai nisab, haul, perhitungan, dan penyaluran zakat membantu memastikan kewajiban tersebut dilaksanakan secara tepat. Kebiasaan mencatat keuangan dengan baik juga memudahkan proses perhitungan sekaligus membangun pengelolaan bisnis yang lebih transparan. Dengan memahami konsep zakat, kegiatan usaha dapat dijalankan dengan memperhatikan keseimbangan antara kepentingan ekonomi, tanggung jawab sosial, dan nilai-nilai keislaman.

Berita Terkait
Baca Juga:
Perbedaan NU dan Muhammadiyah Justru Memperkuat Persatuan Bangsa

Perbedaan NU dan Muhammadiyah Justru Memperkuat Persatuan Bangsa

Nasional      

16 Jun 2024 | 1042


Organisasi massa dari agama Islam di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, seringkali menjadi perbincangan yang menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan masyarakat. Namun, ...

Tips jasa arsitek lewat sosmed

Tips Jasa Arsitek Lewat Sosmed: Meningkatkan Visibilitas dan Pemasaran

Tips      

22 Jun 2025 | 398


Dalam era digital saat ini, memanfaatkan media sosial atau sosmed menjadi salah satu strategi yang efektif untuk meningkatkan pemasaran jasa arsitek. Dengan menggunakan platform seperti ...

pesanten Al Masoem Bandung

PPDB 2025: Alasan Memilih Boarding School Bandung sebagai Sekolah Pilihan

Pendidikan      

26 Agu 2024 | 1057


Saat memilih sekolah yang cocok untuk anak, banyak orangtua mempertimbangkan berbagai faktor seperti kualitas pendidikan, lingkungan belajar, dan keamanan. Salah satu pilihan yang dapat ...

Strategi SEO Semantic Search untuk AI Engine agar Konten Lebih Relevan dan Mudah Dipahami Tahun 2026

Strategi SEO Semantic Search untuk AI Engine agar Konten Lebih Relevan dan Mudah Dipahami Tahun 2026

Tips      

2 Mei 2026 | 218


Perkembangan teknologi pencarian digital membuat semantic search menjadi salah satu konsep penting dalam strategi SEO modern. Mesin pencari berbasis kecerdasan buatan kini tidak lagi hanya ...

Sabun Pemutih Gluta Soap 10 in 1

Sabun Pemutih Gluta Soap 10 in 1

Kecantikan      

4 Jan 2019 | 2370


JempolMedia.com - Memiliki kulit putih dan bersih tentu adalah impian semua orang. Banyak yang melakukan berbagai cara untuk mendapatkan kulit putih yang salah satunya adalah dengan ...

Social Listening

Social Listening dan CRM: Pilar Utama Customer Relationship Era Digital

     

20 Maret 2025 | 471


Di era digital saat ini, bisnis dihadapkan pada tantangan baru dalam membangun dan mempertahankan hubungan dengan pelanggan. Dua konsep yang semakin penting dan saling terkait dalam ...

Copyright © JempolMedia.com 2018 - All rights reserved